"DEKA"
Kehidupan itu adalah perjalanan yang
panjang, penuh tikungan yang tajam, dan akan jatuh bila tidak hati-hati
melewatinya. Orangtuaku memberi namaku Ely, yang kata teman-temanku adalah anak
yang ceria, terutama di Kampus kami.
Aku
hanyalah manusia biasa yang sedang melanjutkan pendidikanku ke jenjang kuliah
di salah satu Kampus di Medan. Aku tidaklah sempurna tapi aku bersyukur dengan
keadaanku sekarang ini. Aku juga tidaklah pintar tetapi aku berusaha untuk
selalu belajar.
Aku memiliki sahabat yang amat setia menemani ku di kala suka maupun duka,
sahabatku itu bernama Joko, Arie, dan Ifran. Kami bersahabat dari duduk di
bangku SMP sampai sekarang ini. Setelah aku kuliah aku mendapat begitu banyak
sahabat salah satunya Nunung, Ana dan Wardah. Tidak hanya mereka yang menjadi
sahabatku tetapi juga Dawiyah dan Tika yang kami sebut dengan Trio Kwek – Kwek
alias DEKA, yang berarti tiga cewek – cewek yang slalu ceria.
Aku
bersahabat dengan mereka dari awal masuk kuliah. Kesan pertamaku dengan mereka,
mereka orangnya lucu, ceria, dan simple. Sama seperti aku. Hal itulah yang
membuat kami semakin dekat.
Waktu terus bergulir dan hari terus berganti. Awalnya kami hanya sekedar teman
biasa yang memiliki rasa ingin tahu dengan sifatnya satu sama lain. Semua itu
bermula saat kami beranjak ke semerter 2.
Hampir semua kegiatan kami lakukan bersama. Kami sering ngobrol bersama,
tertawa bersama, jalan – jalan bersama, sholat bersama mengerjakan tugas
besama, makan bersama, bahkan menghabiskan waktu dengan melakukan melakukan
sesuatu yang menurut kami tidak terlalu penting secara bersama – sama. Banyak
cerita duka dan suka yang kami ceritakan
bersama. Banyak pertanyaan yang kami lontarkan. Dari kesukaan, hal yang tidak
disukai, hingga impian – impian kami untuk tetap bersama meski kami sudah lulus
kuliah kelak.
Sayangnya kedekatan kami tidak seindah yang kami bayangkan. Tali persahabatan
yang tlah lama terjalin mulai retak dan pudar saat kami memasuki semester 6
hanya karena setitik kesalahan yang kulakukan hingga membuat mereka nyaris
membenciku. Puluhan pesan singkatku tak mendapat tanggapan dari mereka. Parahnya
lagi setiap kami bertemu kami seperti orang yang tidak pernah mengenal
sebelumnya.
Kini….
Semuanya
telah berubah, tak ada lagi yang mau memperdulikanku, tak ada lagi yang
menemaniku, tak ada lagi tempatku berbagi keluh kesah ini. Aku bagaikan patung
kusam yang tak berharga. Setiap hari – hariku di kampus ini kulalui hanya
ditemani dengan suara music yang slalu aku putar sebagai penghibur diri.
Tuhan aku binggung dengan apa yang harus ku perbuat. Jujur aku sedih jika
selamanya aku dan mereka harus begini. hatiku sakit bagaikan di tusuk seribu
jarum. Aku mohon kepada Mu jangan ambil sahabatku. Engkau dapat mengambil semua
yang ku miliki tapi jangan kau ambil sahabatku. Karena sahabat menurutku
amatlah berarti dalam hidup ini.
Jika aku boleh meminta pada Mu. kembalikanlah sahabat - sahabatku seperti
dikala pertama kali aku mengenalnya. Aku hanya ingin jika aku kelak bertemu
dengan mereka, aku dapat melihat senyuman manis mereka dan tawa bahagia mereka
bersamaku, mendengar kata sapaan dari bibirnya yang merah, merasakan perhatian
dan kasih sayang mereka yang tulus kepadaku, . entah kapan semua itu terjadi,
yang jelas aku akan selalu menjadikan mereka sahabat terbaikku. aku yakin itu
semua akan terjadi.. Yeach… semua itu
pasti terjadi.
Jarum jam terus berputar begitu pula harapan ku yang semakin lama luntur karena
perilaku mereka. Terlebih lagi saat ku dengar kata – kata yang tak sengaja
terlontar dari bibir Tika “Emang ada
sahabat aku yang bentuknya seperti kamu”. Yach kata – kata itulah yang ku
dengar dari bibirnya. Aku menyadari itu semua terjadi karena kesalahanku juga. Yang
pada suatu ketika menulis kalimat “Kalian tidak tahu apa – apa tentang hidupku,
urusin aja urusan pribadi kita masing – masing, kalian gak berhak mencampuri
urusanku” di salah satu akun jejaring social ku. Terlebih lagi ada salah satu
teman yang berkata bahwa mereka dan aku itu sama, mereka juga tidak jauh lebih
baik daripada aku. Ya, mungkin hal itulah yang membuat mereka semakin
membenciku. Aku kecewa dengan perbuatan mereka itu, dan yang membuat aku sedih
kenapa pertemanan yang diawali dengan baik harus di akhiri seperti ini.
Satu tahun berlalu dari kejadian itu. kini aku telah memasuki semester 8. di
antara kami sampai saat ini hanya ada kebisuan dan kepura-puraan. Aku mulai
dari kejadian kemarin hanya bisa berpura untuk tidak terjadi apa – apa diantara
kami. sebenarnya tidak seorang pun mengetahui bahwa sejak satu tahun yang lalu kami
sudah tidak bersama - sama lagi dan Trio Kwek – Kwek hanyalah sebuah simbol
kenangan manis sebuah persahabatan yang pernah terjalin dulu.
Kini
sudah saatnya aku dan seluruh teman – teman satu angkatanku melaksanakan Kuliah
Kerja Lapangan. Aku dan mereka berada di desa yang berbeda. Dawiyah dan Tika bersama teman – teman lain
di Desa Paya Gambar, sedangkan Aku, Wardah, Ana, dan Nunung di Desa Sidodadi.
Disini aku mulai mendapat banyak pelajaran berharga dalam hidupku. Aku dan
teman – teman di tempatkan di rumah keluarga yatim piatu yangmana hanya dua
orang kakak beradik yang selalu terlihat kompak dan saling menghargai satu sama
lain. Belum lagi suasana lingkungan desa yang nyaman dan damai, anak – anak
yang lucu – lucu, dan warga desa yang ramah tamah membuatku merasa tenang.
Terlebih lagi dengan sikap – sikap temanku Wardah, Ana, Kak Nunung, Kak Renny,
Bang Lindung, dan Khalik yang lucu, baik, terkadang cerobah, dan jahil,
membuatku selalu tertawa bahagia saat bersama mereka. Hal ini membuatku
tersadar bahwa aku masih bisa tersenyum bahagia meski aku tak bersama mereka.
Hari
demi hari terus kulalui, begitu pula kehidupanku. Telah banyak perubahan yang
terjadi diantara kita. Tika dan Dawiyah kini semakin terlihat dekat dan akrab,
bahkan sekarang mereka telah mengajar di sebuah sekolah yang sama. Sementara
aku, aku kini semakin akrab dengan Kak Nunung, dia memang tidak serame dan seheboh
saat aku bersama DEKA tetapi banyak hal yang membuat aku jauh lebih merasa
nyaman saat bersamanya dan Ana juga sekarang slalu terlihat bersama Wardah dan
mereka menyebut diri mereka Barbie
SecaniZz.
Di depan mushollah tepat di pinggir lapangan kampus aku duduk sendiri di bangku
kosong yang tak berpenghuni. Kuterawang setiap tempat, sunyi, hanya ada aku,
lapangan yang luas, dan bunga – bunga yang menghalangi panasnya sinar matahari
yang menjamahku. Hampir setengah jam aku di sini, tak ada yang berubah, hanya
saja daun-daun yang sudah menguning itu berguguran dan angin pun sesekali
bertiup pelan. Tuhan, Aku lelah, aku ingin bersandar, aku merindukan saat –
saat itu, aku merindukan kebersamaan itu, aku merindukan DEKA.
Seseorang pernah berkata padaku, “Jangan
pernah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling berjauhan, tapi
jadikanlah perbedaan itu sebagai alasan untuk kita saling mengenal dan pondasi
untuk membangun suatu hubungan dan keberhasilan yang sebenarnya tak akan
menemukan jalan yang lurus, tapi ia akan menemukan jalan yang berliku dan
beberapa tikungan yang tajam...”.
Kini setalah apa yang terjadi, apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan, aku
mulai mengerti tentang hidup dan tentang sebuah persahabatan. Bahwa sebenarnya hidup
ini tidak terjadi begitu saja, semua telah diatur oleh yang Kuasa dan Dia pasti
akan menunjukkan segala yang terbaik untuk kita. Begitu pula dengan
persahabatanku, dengan kejadian ini aku belajar arti dari sebuah persahabatan,
aku belajar untuk lebih menghargai sahabat, aku belajar untuk menjaga sebuah
persahabatan, dan aku belajar untuk jauh lebih mempercayai diriku sendiri
daripada oranglain.
“ Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, setiap orang pernah melakukan
kesalahan, namun semua orang juga punya hak yang sama untuk memperbaiki diri.
Jangan terlalu membenci seseorang dan jangan terlalu mempercayai seseorang
melebihi diri anda sendiri. Jangan pernah menggantungkan kebahagiaanmu diatas
kebahagiaan orang lain, karena kebahagiaan itu datangnya dari hati, dan setiap
orang mempunyai hak yang sama untuk berbahagia. Satu hal yang paling penting
ialah berlaku ramahlah kepada oranglain, anda mungkin tidak tahu kepedihan
hatinya, tapi mungkin anda bisa menjadi alasan bagi harapan barunya”. ^_^
Komentar
Posting Komentar